RSS

“KARAKTER BELAJAR SISWA ABAD 21 DALAM PMRI”

04 Des

Di era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan persaingan antar individu, setiap orang dituntut untuk memiliki kualitas dan keterampilan yang mumpuni dalam menjawab setiap tantangan tersebut. Keterampilan yang dimaksud ini antara lain terampil menggunakan teknologi, terampil mengelola informasi, terampil belajar, terampil berinovasi, terampil hidup, terampil berkarir, dan terampil meningkatkan diri dalam kesadaran global. Untuk itu penguasaan keterampilan ini wajib dimiliki oleh setiap siswa-siswa Indonesia yang menjadi tulang punggung perjuangan dan harapan dari bangsa ini. Namun, bagi siswa Indonesia seluruh keterampilan itu belumlah cukup. Masih ada keterampilan esensial yang mendasari semua keterampilan yang wajib siswa kuasai yaitu terampil menjalankan ketakwaannya kepada Tuhan lewat agamanya masing-masing. Keterampilan utama dan terutama adalah memilih mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Mengendalikan diri dalam memilih kekuatan pikirannya sebagai sandaran dari tindakannya, dan menyerahkan sebagian pengaturan hidupnya kepada Yang Maha Kuasa.

Para pakar yang mencoba merumuskan keterampilan yang dibutuhkan siswa pada abad 21 sebagai berikut :

•   Memiliki karakter sebagai pemikir. Karakter sebagai pemikir ini ditandai dengan terampil berpikir inovatif lewat kecepatan beradaptasi dengan lingkungan, mampu memecahkan masalah yang kompleks, dan dapat mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi tantangan yang ada, cerdas, kreatif, dan berani ambil resiko. Selain itu. karakter yang relevan dengan kerja otak ini meliputi prilaku berpikir yang selalu ingin tahu, berpikir terbuka, dan bersikap reflektif.

  Memiliki etos kerja yang tinggi sehingga produktif. Hal ini ditandai dengan memiliki kemampuan untuk menentukan prioritas, mengembangkan perencanaan, memetakan hasil pencapaian, terampil menggunakan perangkat kerja, dan meningkatkan keterampilan yang sejalan dengan perkembangan teknologi. Di samping itu, terampil mengembangkan kecakapan yang relevan dengan kebutuhan hidup, dan selalu menghasilkan mutu produk yang tinggi. Karakter yang relevan dengan hal ini adalah prilaku hidup yang bersih dan sehat, disiplin, sportif, tidak kenal menyerah, tangguh, handal, berketetapan hati, kerja keras, dan kompetitif.

•  Memiliki keterampilan berkomunikasi. Hal ini ditandai dengan kemampuan bekerja dalam tim yang bervariasi, berkolaborasi, dan cakap mengembangkan hubungan interpersonal sehingga selalu dapat menempatkan diri dalam interaksi yang harmonis. Memiliki kecakapan komunikasi personal, sosial, dan terampil mengejawantahkan tanggung jawab. Yang tidak kalah pentingnya adalah terampil dalam komunikasi interaktif dengan cerdas dan rendah hati. Karakter yang relevan dengan keterampilan ini adalah menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, kosmopolit, mengutamakan kepentingan umum dan bangga terhadap produk bangsa sendiri.

Cakap dalam menggunakan teknologi dan informasi. Hal ini ditandai dengan kecakapan untuk memvisualisasikan informasi dalam mengembangkan keterampilan multikultural, bekerja sama dan berkomunikasi dalam ruang lintas bangsa, serta terampil mengembangkan kesadaran global.

•  Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bangsa Indonesia memandang bahwa kecakapan intelektual, digital, sosial, dan akademik belum cukup. Anak Indonesia wajib memiliki kecakapan hidup yang yang lebih bernilai yang ditandai dengan keterampilan beriman dan bertakwa, terampil hidup jujur, terampil menjalankan amanah, terampil berbuat adil, terampil menjalankan tanggung jawab, terampil berempati, dan patuh menjalankan hidup beragama sebagai releksi menjalankan perintah Tuhan.

Seluruh pencapaian ini dinyatakan dalam bentuk keterampilan. Hal ini menandakan bahwa puncaknya keberhasilan pendidikan bukan pada penguasaan ilmu pengetahuan, melainkan dalam karya nyata siswa yang mereka tunjukkan dalam prilaku sebagai hasil belajar. Produk hasil belajar dapat mereka tunjukkan dalam bentuk perbuatan, perkataan, tulisan, karya seni, karya imajinatif, produk intuitif, seperti rancang bangun, merepleksikan pikiran dalam bentuk disain, diagram, pola, uraian, deskripsi.

Yang perlu dikembangkan untuk mengasah keterampilan itu adalah melatih dan merefleksikan keterampilan itu dalam perbuatan sehari-hari di luar kelas, di dalam kelas, di rumah, dan dalam kehidupan bermasyarakat. Membangun suasana lingkungan dan konsisten berlatih untuk mengarahkan diri secara berkelanjutan adalah bagian dari kunci keberhasilan.

Untuk itu, demi mewujudkan keterampilan–keterampilan siswa Indonesia yang mampu bersaing pada abad 21 ini maka pembelajaran disekolah harus merujuk pada 4 karakter belajar abad 21 yang biasanya dirumuskan dalam 4C yakni :

1. Communication. Artinya, pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa harus terjadi komunikasi muliti arah dimana terjadi komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, maupun antar sesama siswa. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui komunikasi dan pengalaman yang dia alami sendiri. Hal ini sejalan dengan filsafat pembelajaran modern yang dikenal dengan filsafat Kontruktifisme.

2. Collaboration. Artinya, pada proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan situasi dimana siswa dapat belajar bersama-sama/berkelompok (team work), sehingga akan tercipta suasana demokratis dimana siswa dapat belajar menghargai perbedaan pendapat, menyadari kesalahan yang ia buat, serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tangung jawab yang diberikan. Selain itu, dalam situasi ini siswa akan belajar tentang kerjasama tim, kepemimpinan, ketaatan pada otoritas, dan fleksibilitas dalam lingkungan kerja. Hal ini akan mempersiapkan siswa dalam menghadapi dunia kerja dimasa yang akan dating.

3. Critical Thinking and Problem Solving. Artinya, proses pembelajaran hendaknya membuat siswa dapat berpikir kritis dengan menghubungkan pembelajaran dengan masalah-masalah kontekstual yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan situasi yang real yang dialami oleh siswa ini akan membuat siswa menyadari pentingnya pembelajaran tersebut sehingga siswa akan menggunakan kemampuan yang diperolehnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.

4. Creativity and Innovation. Artinya, pembelajaran harus menciptakan kondisi dimana siswa dapat berkreasi dan berinovasi, bukannya didikte dan diintimidasi oleh guru. Guru selalu hendaknya menjadi fasilitator dalam menampung hasil kreastivitas dan inovasi yang dikembangkan oleh siswa.

Salah satu hasil inovasi pembelajaran khususnya dalam pembelajaran matematika yang sejalan dengan karakter belajar abad 21 adalah pendekatan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI). PMRI merupakan suatu pendekatan pendidikan matematika yang merupakan hasil adaptasi dari Realistic Mathematics Education (RME) yang telah dikembangkan di Nederland sejak tahun 1970 (Heuvel-Panhuizen, 2003 ; Hadi,2005). RME menggabungkan pandangan tentang apa itu matematika, bagaimana siswa belajar matematika, dan bagaimana mengajarkan matematika (www.pmri.or.id/latarbelakang.html). Pendekatan ini mengacu pada pendapat Freudenthal (Zulkardi,2003) yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan siswa dan relevan dengan situasi siswa sehari-hari. Berdasarkan hal ini, kata ‘realistik’ tidak hanya mengacu pada dunia nyata, tetapi juga pada situasi real dalam pikiran siswa. Siswa juga harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan kembali ide atau konsep matematika. Freudenthal berkeyakinan bahwa siswa tidak boleh dipandang sebagai passive receivers of ready-made mathematics (penerima pasif matematika yang sudah jadi).

PMRI menekankan bagaimana siswa menemukan kembali (reinvention) konsep-konsep atau prosedur-prosedur dalam matematika melalui masalah-masalah kontekstual. Soedjadi (2001) mengemukakan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realita dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika. Lebih lanjut Soedjadi menjelaskan yang dimaksud dengan realitas yaitu hal-hal yang nyata atau konkret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan ini disebut lingkungan sehari-hari.

Dari uraian di atas, tampak bahwa PMRI merupakan pendekatan pembelajaran yang bertolak dari masalah-masalah yang sesuai dengan pengalaman siswa. Dalam hal ini, siswa aktif dan guru berperan sebagai fasilitator. Siswa bebas mengemukakan dan mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain. Guru hanya membantu siswa secara terbatas untuk membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka mengambil kesimpulan tentang ide mana yang benar, efisien, dan mudah dipahami mereka. Dalam kaitannya dengan matematika sebagai kegiatan manusia, siswa harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan kembali ide atau konsep matematika secara mandiri sebagai akibat dari pengalaman siswa dalam berinteraksi dengan realitas. Setelah menemukan konsep-konsep matematika, siswa dapat menggunakannya dalam menyelesaikan masalah yang terkait untuk memperkuat kemampuan berpikirnya tentang konsep matematika tersebut.

PMRI memiliki 5 (lima) karakteristik (Gravemeijer, 1994 ; Zulkardi, 1999). Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.

1) Menggunakan masalah konstekstual (the use of contexts)

Pembelajaran diawali dengan menggunakan masalah kontekstual, tidak dimulai dari sistem formal. Masalah kontekstual yang diangkat sebagai topik awal pembelajaran harus merupakan masalah sederhana yang dikenali oleh siswa.

2) Menggunakan model (use of models, bridging by vertical instruments)

Pada pembelajaran dengan pendekatan PMRI, digunakan model yang dikembangkan sendiri oleh siswa dari situasi yang sebenarnya (model of). Model tersebut digunakan sebagai jembatan antara level pemahaman yang satu ke level pemahaman yang lain. Selanjutnya, model ini diarahkan untuk menjadi model ke arah matematika formal (model for).

3) Menggunakan kontribusi siswa (students contribution)

Kontribusi yang besar pada proses pembelajaran datang dari siswa, artinya semua pikiran (konstruksi dan produksi) siswa diperhatikan. Kontribusi dapat berupa aneka jawab, aneka cara, atau aneka pendapat dari siswa.

4) Interaktivitas ( interactivity)

Mengoptimalkan proses pembelajaran melalui interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan guru dan siswa dengan sarana prasarana merupakan hal yang penting dalam PMRI. Negosiasi, diskusi, dan kerjasama adalah elemen-elemen penting dalam PMRI. Metode informal yang dikembangkan siswa digunakan sebagai acuan menuju metode formal. Dalam hal ini, siswa dilibatkan dalam menjelaskan, membenarkan, menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuan, menanyakan alternatif, dan melakukan refleksi. Interaksi terus dioptimalkan sampai konstruksi yang diinginkan diperoleh, sehingga interaksi tersebut bermanfaat.

5) Terkait dengan topik lainnya ( intertwining )

Struktur dan konsep matematika saling berkaitan. Oleh karena itu, keterkaitan dan keterintegrasian antar topik (unit pelajaran) harus dieksplorasi untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran yang lebih bermakna. Intertwin dapat terlihat melalui masalah kontekstual yang diberikan.

Berdasarkan 5 karakteristik diatas, maka jelaslah bahwa PMRI sejalan dengan karakter belajar Abad 21. Untuk itu sudah sewajibnya PMRI di kembangakan dan dilaksanakan dalam setiap pembelajaran matematika di Indonesia. Memang, upaya ini tidaklah mudah, butuh kerjasama dan kesatuan visi yang jelas antara lembaga-lembaga seperti LPTK dan Guru di sekolah. Sekiranya kerjasama itu dapat dilakukan dengan baik maka harapan siswa-siswa Indonesia untuk dapat berkancah di abad 21 bisa menjadi kenyataan. _nAVeL_SoNIcZ13

Sumber :

Kajian literatur dari berbagai sumber dan materi perkuliahan pada kelas “Introduction to Realistic Mathematics Education (RME)”, Senin 28 Nopember 2011 oleh Prof. Dr. Zulkardi, M.I.Komp, M.Sc

 
12 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 4, 2011 in Artikel tentang PMRI, Pendidikan

 

Tag: , , , ,

12 responses to ““KARAKTER BELAJAR SISWA ABAD 21 DALAM PMRI”

  1. odisumantri

    Desember 5, 2011 at 5:05 am

    Nice Blog, Salam kenal.

     
    • navelmangelep

      Desember 5, 2011 at 9:26 am

      Terima Kasih.. salam kenal juga..
      Mohon saran dan bantuannya dalam pengembangan blog ini>>
      Semoga Blog ini dapat memberikan sumbangsi terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia,, AMIN

       
  2. Sukajiyah

    Desember 8, 2011 at 8:48 pm

    inspiratif, meski saya bukan guru matematika, setidaknya saya punya gambaran menarik yang dapat saya lakukan saat proses pembelajaran.
    salam kenal…

     
  3. AKHMAD SUDRAJAT

    Desember 9, 2011 at 3:36 am

    Matermatika merupakan pelajaran yang berkaitan frngan upaya untuk mengasah logika berfikir,
    Dengan adanya PMRI semoga anak-anak kita menjadi semakin cinta matematika, tidak lagi menjadi sesuatu yang dianggap “menyeramkan” 🙂

     
    • navelmangelep

      Desember 10, 2011 at 10:22 am

      AMin.. itulah visi kami pak dalam menyebarluaskan PMRI di Indonesia..
      Sehingga Matematika tidaklah menjadi MOMOK lagi bagi para siswa..

       
  4. Sawali Tuhusetya

    Desember 10, 2011 at 4:25 am

    luar biasa, pak. saat ini kita memiliki banyak orang pinter. sayangnya, tidak semuanya memiliki karakter semacam itu. karakter religius, misalnya baru sebatas dalam slogan. semoga para pelajar kita kelak mampu memiliki karakter tangguh, tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga cerdas emosi, spiritual, dan sosialnya.

     
  5. abi_gilang

    Desember 10, 2011 at 9:57 am

    Ilmu yang kontekstual memang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman akang pernah meminta tolong seorang mahasiswa untuk mengukur ukuran dari kayu gelondongan..ee ternyata dia tidak sanggup padahal yang akang tahu dia seorang mahasiswa fak kehutanan dengan jurusan Produksi Hasil Hutan..terus terang akang jadi bingung melihatnya.

     
    • navelmangelep

      Desember 10, 2011 at 10:25 am

      hahahahahah, pengalaman yang menarik akang..😀
      yach itulah mengapa pemblajaran sekarang harus mengacu pada pembelajaran yang sifatnya realistik dan nyata serta dekat dengan siswa. Sehingga siswa dapat mengkonstruksi ide, pengalaman, serta pengetahuannya sendiri yang mengakibatkan pembelajaran menjadi BERMAKNA untuk siswa.

       
  6. ibnufajarisme

    Desember 12, 2011 at 4:07 pm

    boleh nih..
    saya comot buat materi training saya boleh kah?

     
    • navelmangelep

      Desember 13, 2011 at 5:26 am

      Boleh banget pak… Silahkan..
      _indahnya Berbagi_
      Salam Kenal yach pak,,

       
      • IBNUFAJARISME

        Desember 14, 2011 at 11:08 am

        salam kenal balek.. terimakasih sebelumnya..
        ga usa pake “pak.. masi culun bro..😀

         

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: