RSS

RSBI ; RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL ataukah RINTIHAN SEKOLAH BERBAHASA INGGRIS ????

20 Nov

Akhir-akhir ini kita sering melihat sekolah-sekolah berlomba-lomba meningkatkan standar pendidikannya dengan mengaet label RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) ataupun SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Hal inipun tidak telepas dengan program pemerintah untuk membuat sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dengan dalih untuk dapat bersaing dimata dunia. Akan tetapi apakah hal ini sejalan dengan nilai-nilai luhur kebangsaan dan arah kebijakkan pendidikan nasional kita yang melandaskan karakteristik bangsa ? Ataukah hanya sekedar peng”kasta”an siswa tanpa melandaskan prinsip keadilan sosial yang tertuang didalam dasar negara kita yakni pancasila.

Jika kita mereflekskan apa yang terjadi dilapangan, maka kita akan menemukan berbagai permasalahan yang ada pada program RSBI ini. Sehingga wajarlah jika kita mengatakan RSBI sebagai “RINTIHAN SEKOLAH BERBAHASA INGGRIS”. Rintihan-rintihan ini banyaklah terdengar dari pihak siswa maupun guru karena tidak siap dalam melaksanakan program ini.

Ketidaksiapan sekolah-sekolah dalam melaksanakan program RSBI dapat terlihat dari hasil penelitian dan evaluasi yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan Nasional. Dari hasil penelitian ini terungkap, lebih dari 80 persen guru dan kepala sekolah kemampuan bahasa Inggris-nya sangat rendah. Berdasarkan hasil test of english for international communication (TOEIC), para guru dan kepala sekolah berada di level novice (100-250) dan elementry (255-400). Kemampuan berbahasa Inggris yang rendah justru ada di guru-guru Matematika dan sains (Fisika, Biologi, dan Kimia). Padahal, di RSBI seharusnya mereka menyampaikan pelajaran dalam bahasa Inggris. Tapi anehnya, meski banyak sekolah yang belum memenuhi syarat, kenyataannya sekolah yang bermetamorfosis menjadi RSBI melonjak pesat. Dalam waktu kurang dari lima tahun, sudah ada 1.329 SD, SMP dan SMA/SMK berstatus RSBI.

Selain itu, pada pelaksanaannya sering juga tercium aroma berbau korupsi dalam mendapatkan status sebagai sekolah RSBI. Seperti yang dikritik LSM pemerhati korupsi ICW, ICW melansir adanya dugaan penyelewengan dana pendidikan RSBI. ICW menemukan setoran-setoran tak jelas dari sekolah kepada sejumlah pejabat di dinas pendidikan untuk memuluskan jalan menuju sekolah berlabel RSBI.

Dari pihak siswa, rintihan sangatlah terdengar terutama dari para siswa yang latar belakang ekonominya lemah. Karena tidak jarang sekolah mengambil pungutan yang lebih dengan alih-alih perbaikkan mutu dalam pelaksanaan RSBI. Selain itu, pengkastaan yang dilakukan lewat program ini menimbulkan retensi antar sesama siswa. Siswa-siswa yang masuk dalam kelas RSBI akan memandang dirinya sebagai orang kelas atas dan borjuis yang lebih hebat dari pada siswa-siswa yang tergabung dalam kelas Reguler. Begitupun sebaliknya, siswa-siswa regular akan memandang dirinya sebagai kaum kelas 2 dan bodoh, sehingga mereka membentuk konsep diri yang keliru.

Selain itu terjadi ketidakadilan dalam perlakuan siswa RSBI dan siswa regular. Bayangkan saja, kelas yang berstatus RSBI semuanya serba wah, kursinya beda, LCD-nya beda, lokernya beda, murid dan gurunya juga tampil seolah-olah dari kasta berbeda. Apakah ini sejalan dengan prinsip Keadilan Sosial yang tertuang dalam PANCASILA kita? Adanya pengkotak-kotakan dalam dunia pendidikan ini sangatlah tidak sesuai dengan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan karakter yang digagas dan sementara didengung-dengungkan akhir-akhir ini. Pasalnya, para siswa secara gamblang menyaksikan dan mengalami secara langsung adanya diskriminasi dalam dunia pendidikan di sekolahnya.

Selain itu, ketidakadilan juga nampak pada subsidi yang diberikan dari pemerintah kepada sekolah-sekolah. Dalam hal ini, pemerintah memberikan perhatian lebih pada sekolah yang berstatus internasional dengan adanya subsidi khusus. Padahal, seharusnya sekolah-sekolah yang prestasinya menurun yang diberikan perhatian lebih oleh pemerintah agar tercipta kesetaraan dalam dunia pendidikan. Dan juga, pemberlakuan dua kurikulum berbeda dengan status nasional dan internasional, bisa mengaburkan orientasi pendidikan di Indonesia.

Pemerintah sebaiknya mengembalikan status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menjadi sekolah negeri pada umumnya menyusul hilangnya bantuan pemerintah terhadap RSBI. Jika tetap dipertahankan, masyarakat yang akan menanggung beban mengingat biaya yang harus dikeluarkan untuk RSBI sangatlah besar. Selain itu, sejauh ini tidak ada jaminan siswa lulusan sekolah RSBI dapat masuk kembali ke SMA yang juga RSBI. Dan juga, tidak ada jaminan lulusan SMA/SMK RSBI akan diterima di perguruan tinggi yang mereka idam-idamkan.

Selain itu pada pelaksanaannya, RSBI lebih menekankan kemampuan kognitif siswa seperti kemampuan berrbahasa asing dan menguasai teknologi informasi, padahal dalam arah kebijakkan pendidikan harus berorientasi pada 3 hal yakni kognitif, afektif, dan psikomotor.  Hal ini juga nampak jelas dengan semakin banyaknya sekolah-sekolah yang berlabel RSBI yang terlibat dalam tauran antar siswa belakangan ini.

Seharusnya jika kita ingin memperbaiki mutu pendidikan kita, maka RSBI bukanah jalan yang terbaik. Seharusnya pemerintah lebih fokus kepada peningkatan kualitas guru dan dosen dan perbaikan kurikulum yang mencerminkan karakteristik dan nilai-nilai luhur bangsa ini. Bukan hanya berkutat-kutat pada proyek-proyek perbaikkan mutu pendidikan yang hasilnya tidaklah nampak, sebut saja proyek PAIKEM, CTL, PBI, dll yang hanya nampak pada periode pelaksanaan program tersebut, tetapi ketika proyeknya berakhir, maka berakhir pulalah pendekatan pembelajaran tersebut.

Banyak negara-negara yang berhasil ketika mereka Fokus dengan kebijakkan dalam dunia pendidikan mereka yang mereka gali  berdasarkan budaya bangsa mereka sendiri. Seperti contoh Jepang dengan “Lesson Study”nya, Finlandia dengan peningkatan “Teacher Quality” dimana untuk menjadi guru harus memiliki latar belakang pendidikan S2 dan merupakan 10 lulusan terbaik di Universitas-universitas di negeri mereka, Singapura dengan pembenahan kurikulum yang ketat, Hongkong dengan mengkombinasikan pendidikan dan filsafat Conficiusnya, Belanda dengan RME (Realistic Mathematics Education) nya, dll. Tetapi Indonesia tidaklah jelas arah dan kebijakkan yang diambil. Ada PAIKEM, CTL, Lesson Study, dan yang paling terakhir pendidikan berbasis karakter, seharusnya kita fokus dalam satu arah kebijakkan pembenahan kualitas pendidikan kita. Bukan ganti menteri, ganti kebijakkan, yang pada akhirnya kita hanya berkutat dalam hal yang sama.

Banyak hal sebenarnya yang bisa di gali dari budaya bangsa ini dalam perbaikkan sistem pendidikannya. Seperti contoh dengan Filsafat SI TOU TIMOU TUMOU TOU” yang dipopulerkan Dr. G. S. S. Ratulangi  atau yang lebih dikenal dengan Sam Ratulangi yang merupakan DOKTOR Matematika pertama di Indonesia dan juga seorang PAHLAWAN nasional dari Sulawesi Utara. Beliau beranggapan bahwa “Manusia baru dapat disebut sebagai manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia lain” atau dalam dialek melayu manado sering disebut dengan “BAKU BEKENG PANDE”. Yang artinya saling bekerjasama bahu-membahu untuk meningkatkan taraf hidup dan kepintaran sesama manusia (MAPALUS). Prinsip ini sangatlah erat dangan implementasi Sila ke-5 dalam pancasila yakni Keadilam sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya percaya jika didalam kurikulum dan arah pengembangan kebijakkan pendidikan di Indonesia berlandaskan prinsip ini, maka perbaikkan mutu pendidikan di Indonesia akan menjadi kenyataan.  _nAVeL_SoNIcZ13`

div>

 
13 Komentar

Ditulis oleh pada November 20, 2011 in Pendidikan

 

Tag: , , , ,

13 responses to “RSBI ; RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL ataukah RINTIHAN SEKOLAH BERBAHASA INGGRIS ????

  1. Hanny France

    November 20, 2011 at 12:44 pm

    Mantap tulisannya…..

     
  2. mintarsih28

    November 21, 2011 at 1:13 am

    he he orang indonesia selalu pintar mlesetkan singkatan.tetapi itulah fenomena pendidikan kita. Padahal Jepang saja pengantarnya tidak menggunakan bahasa Inggris saja maju.Mengapa RSBI kita paksakan jadinya ya rintihan sekolah berbahasa inggriis.

     
  3. Dwi Afrini Risma

    November 22, 2011 at 12:15 pm

    numpang share ya Pak Dosen. o_-

     
  4. Novita Sari

    Desember 11, 2011 at 3:13 pm

    numpang share jg, Mner Navel Oktaviandy Mangelep

     
  5. orenji

    Desember 12, 2011 at 9:17 am

    menyedihkan, kalaupun di ikutkan pelatihan, guru guru yang “dipaksa” bisa berbahasa Inggris itu juga sudah kecapekan… hasilnya? NOL besar. pelatihan cuma numpang absen terus pulang =.=
    yang kelihatan pasti, RSBI = Gengsi tinggi
    dan penyakit orang Indonesia, gengsi itu nomor 1

     
  6. hendratahulending

    Mei 24, 2012 at 6:03 am

    Dear Mr. Navel,

    Ini sudah menjadi masalah yang sangat ironis sejak transisi Orde Lama ke Orde Baru kemudian menjadi lebih sangat ironis ketika Indonesia mengatakan mapan dengan jiwa Reformis (era Reformasi) yang seharusnya semua lini direformasi ternyata hanya menjadi kedok bagi sekelompok orang/elite yang ingin menjabat di berbagai posisi yang Sentral termasuk Reformasi Pendidikan. Ketakutan saya adalah bukannya makin banyak orang yang ingin mencintai Produk Pendidikan Dalam Negeri, sebaliknya akan rame-rame register Scholarship yang ditawarkan oleh Negara lain i.e Monbukagusho, Fullbright, AUSAID, USAID, Jardine Scholarship, etc. Hal-hal tersebut (Policy in Education) harusnya dilihat berdasarkan educational value yang ada di Indonesia yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara, yang secara fundamentalis menentang Kapitalisme, diskriminasi Pendidikan dsb. SBI, RSBI atau apalah itu alasannya, harus dilihat secara makro dan mikro bahwa kalau ingin mengembangkan SBI, RSBI, dll haruslah dikembangkan dengan kondisi Barat-Timur Indonesia yang kesenjangan pendidikan-nya masih terus terjadi dan bahkan semakin tajam (menurut saya). Kalau tidak terjadi kesenjangan mengapa harus ada “Gerakan Indonesia Mengajar” yang dipelopori oleh Dr. Anies Baswedan? Mengapa harus ada “Gerakan Turun Gunung” dari Surya Institute oleh Prof. Yohanes Surya untuk mengajar anak-anak yang menjadi korban diskriminasi Pendidikan? Contohlah Kuba negara yang tidak sebesar USA, UK, dll tapi punya Kualitas Dokter-Dokter yang luar biasa hebatnya. Jadi, para Professional di bidang pendidikan haruslah melihat dengan detail bahwa ini bukan hanya mengejar ketertinggalan secara makro tapi mikro. Buka mata, buka hati, hapuskan diskriminasi Pendidikan! Buatlah Paper mengenai konsep pemerataan Pendidikan sebelum mengejar kompetensi dengan negara lain. Jangan egois saudaraku, kalau ingin memikirkan bangsa ini, pikiran esensi masalah bukan hanya accesoriesnya saja yang dilihat dan ditambah tapi lihatlah substansinya! Semoga bermanfaat tulisan ini. Mari belajar. God bless you all!

    Kind Regards,
    Hendra Tahulending

     
    • navelmangelep

      September 5, 2012 at 6:36 am

      thanks bro… saya sebagai orang pendidikan tertantan untuk memperbaiki hal itu..
      Terima Kasih Banyak..

       
  7. zoel

    Agustus 1, 2012 at 7:07 pm

    sy fikir, kita harus melihat fenomena rsbi (jg ssn) sbgai upya pmrintah utk mmaksa pengelola skolah serta pihak2 trkait utk meningkatkan kualitas skolah kepada kondisi pasca labelisasi (rsbi,ssn) yang lebih baik. karena memang salah satu sifat bangsa kita adalah kadang harus dipaksa untuk bisa maju ke arah yang diharapkan (contoh kasus: pewajiban pmakaian helm, konversi minyak tanah k bbg, dll).
    bhwa ada kekurangan atau penyimpangan (termasuk org2 yg mengambil manfaat utk kpntingan pribadi) dlm “proyek pemaksaan” ini, adalah suatu ekses yg niscaya. menjadi tugas kita bersama utk meminimalkan ekses negatif tersebut. tanpa harus emosionil utk menutup atau membubarkan proyek dimaksud. karena, kalau kita mau jujur, cermat dan holistik dalam menilai, terdapat manfaat positif yg tidak kecil/sedikit juga dari proyek/kebijakan semacam rsbi-ssn (juga paikem,ctl, lesson study, dsb)
    wallahu a’lam

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: